|
Membalap, tak ubah bikin atau menyanyikan lagu. Biar merdu, lagu butuh lirik. Getu pula irama. Butuh beat atau ketukan. Bahkan mengentak jiwa. Baru lagu itu enak dinikmati. Begitu, cyin!
Tak jauh beda dengan balap. “Kita harus mengikuti kata hati,” itu kata Dani Pedrosa kepada seluruh Siswa Honda Racing School (HRS) di Sirkuit Gokart Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tuh kan! Membalap seolah tak ubahnya penyanyi. Menyanyi dengan menjiwai lagu. Pakai hati!
Menyanyi di mana pun, basisnya pada not. Dasar dari tangga nada. Termasuk saat Pedrosa naik bebek. Dasar membalapnya dipegang benar-benar, walau bebek tidak punya tangki. “Karena balap dijiwai,” senyum Pedrosa.
Perhatikan posisi duduk, badan, terutama bahu dan tangan. Saat pertama kali duduk di motor, posisi tangannya berbentuk ‘O’. Setiap masuk tikungan, posisi O ini terus dijaga. Dia hanya melipat tangan, ketika benar-benar lurus.
Bentuk O untuk antisipasi semua keadaan. Saat direm keras, setang tetap diam. Ketika setang misalnya tiba-tiba goyang, bukan lengan lagi yang bekerja, tetapi reaksi dari bahu. Tumpuannya lebih kuat. Kontrol setang tetap stabil.
Posisi kepala juga satu irama dengan menikung. Kepala mengikuti gerak mata. Mata Pedrosa, fokusnya pada tikungan berikutnya. Dengan teknik dasar ini, mengambil racing line dan memainkan irama mesin, pasti laju motor sesuai hati.
Terlihat ketika Pedrosa coba memutari Sirkuit Sentul Kecil pakai Honda Blade. “Sebagai racer dunia, Pedrosa sangat profesional. Loading-nya cepat. Lap demi lap, semakin menunjukan progres,” ungkap Ahmad Jayadi, owner tim balap Honda Denso Castrol NHK Jayadi yang juga jadi salah satu insruktur HRS.
Pedrosa baru kali itu semplak bebek. Adaptasinya segera, lantaran bebeknya spek balap. Dari lap pertama hingga akhir, doi terus mainkan ritme. "Lap pertama, Pedrosa belum pacu motornya. Selain pelajari racing line, juga panaskan mesin. Lap-lap selanjutnya, dia terus tambah kecepatan. Dia makin luwes,” ungkap Erwin Oei dari tim Aries Putra Federal Oil MPM KYT Oei Racing.
Bukan hanya irama tubuh dan baca jalur yang ditambah. Pedrosa memainkan irama mesin dan engine brake juga rem. Pakai nada ini, tiap manuver dilakukan lebih cepat dan enak dilihat.
Tetapi tetap patuh pada dasar membalap tadi. Makanya, bebek ditunggangi terasa seperti pacuan MotoGP atau Superbike. “Pedrosa tidak menutup gas penuh. Gas digantung,” bilang Jayadi yang terus mengamati cara bawa pembalap Honda asal Spanyol itu.
Pedrosa hanya pakai rem secukupnya jelang tikungan. Lebih banyak rem depan. Selebihnya dibantu permainan engine brake. “Rem depan dipakai untuk kontrol arah motor aja,” tambah Jayadi. “Di tikungan, power nggak turun banyak. Paling turun hingga 7.000 rpm. Enggak pernah turun lebih dari angka itu,” bilang mekanik yang akrab disapa Akiang ini.
Nah, teknik rooling speed seperti ini yang masih jarang dilakukan racer kita. Padahal menurut Akiang jika teknik ini dimainkan dengan irama benar, pacuan bakal cepat mengail power maksimal.
Penyesuaiannya, tinggal di piston dan rasio. Untuk piston, butuh material sedikit lebih kuat. Tapi untuk rasio, bukan soal material. Karena dengan teknik yang seperti Pedrosa lakukan, rasio cenderung lebih awet. “Kan, enggak dipaksa dari rpm rendah. Tinggal disesuaikan perbandingan rasio berat-enteng. Tapi yang jelas, butuh rasio lebih berat,” tambah Akiang.
Selepas riding Blade, Pedrosa mengaku ke Anggono Iriawan. “Menurutnya ketika riding pakai bebek, dia teringat masa kecilnya. Power yang dimiliki bebek, tak jauh beda dengan pocket bike yang dipakai latihan saat berusia 12 tahun,” aku Manajer Motorsport Division PT Astra Honda Motor (AHM) yang terus dampingi Pedrosa selama di Indonesia.
Wah, 12 tahun?
Penulis/Foto : Eka/David, Yudi
|