|
Menerapkan sistem cukai klub untuk urusan penjualan merchandise bisa jadi mesin uang yang ampuh dalam sebuah klub. Apalagi jika klubnya besar dan menyangkut massa yang banyak, sistem ini sangat efektif di soal pendanaan internal klub yang bersangkutan.
Ambil contoh klub semisal Bikers Brotherhood MC, MMC-Outsiders atau Scooter Owners Group (SOG). Di dalam tubuh SOG misalnya, anggota yang sudah ratusan dan chapter dimana-mana membuat bisnis merchandising sangat menguntungkan untuk klub.
”Untuk itu perlu pengaturan agar semua pihak diuntungkan,” buka Boy Januar Ariska dan Abah Iman, founder SOG.
Aturan main sistem ini cukup sederhana. Pembuat merchandising baik kaos, topi, jaket atau barang-barang yang memakai bendera SOG harus membeli cukai kepengurusan pusat.”Satu cukai dihargai Rp 5.000. Katakanlah pembuat kaos memproduksi 1.000 buah kaos, ya Rp 5.000 dikalikan 1.000,” jelas Boy.
Nggak sampai di situ saja. Sebelum cukai keluar, desain dan bentuk barang yang akan dijual harus diketahui dan disetujui founder.”Jika oakley barulah kita acc,” jelas dedengkot SOG ini.
Di dalam tubuh Outsiders, founder diistilahkan DS alias Dewan Senior. Prinsipnya nyaris sama. Bedanya urusan acc desain tak ditimpakan pada DS tetapi penunjukkan kepengurusan pada anggota yang memang paham desain. “Cukai disebar ke setiap chapter. Pengurus chapter membeli cukai yang diproduksi mother chapter dan disepakati besaran harganya,” kata Jeff Kareem, yang mengawasi desain di klub ini.
Boy dan Jeff setuju jika cukai lebih efektif ketimbang kas. Event skuter besar seperti wing day maupun ulang tahun chapter, pastinya memproduksi merchandising.”Dari situlah uang mengalir ke kas klub lewat pembelian cukai itu,” jelas Boy. “Apalagi jika desain kaos, sweater, topi bisa diterima pasar. Legalisasi klub lewat cukai menghasilkan uang lumayan. Makanya selain jual cukai, kreasi desain juga harus oke agar penjualan lancar,” jelas Jeff.
Sama persis yang dilakukan klub besar Bikers Brotherhood. Untuk menghindari konflik kepentingan dan membuat dana kas besar serta menuju kemandirian klub itu sendiri.
Di sisi lain sistem cukai ini juga bisa menghindari konflik. Maklumlah, jika urusannya duit potensi konflik kerap muncul. Kuwu Isnya Ansori alias Omenz ketua umum Outsiders sadar betul hal ini.
Lewat masukan Julius 'Use' Rosa builder dan DS klub, mereka memperjuangkan sekali sistem cukai ini untuk diterapkan.
"Maklumlah banyak pembuat kaos, topi, sweater di dalam klub ini. Jika tak dikelola dengan baik banyak timbul pertanyaan, atribut klub dipakai tapi dananya nggak masuk kas," jelas Use.
Makanya sistem cukai langsung menyelesaikan masalah ini. "Jika ada merchandising yang tak memakai cukai berarti liar, tatib klub berhak menarik barang itu. Sebaliknya jika sudah ada cukai, mereka sudah berhak menjual di pasaran karena memang sudah membayar. Urusannya langsung selesai," jelas para pengurus klub ini. Akur dah!
Penulis/Foto : Isf@n/David
|