|
Meski belum ada patokan tarif bea masuk pos komponen otomotif setelah Indonesia ikut kesepakatan AFTA (ASEAN Free Trade Area)-Cina, konsumen roda dua di Indonesia sudah kebal lebih dulu. Lebih dari lima tahun lalu serbuan komponen Cina dan variasi sudah menyerbu lebih dulu.
Karena sudah lebih dulu menyerbu konsumen Tanah Air pastinya kemampuan 'imun' alias daya tahan sudah terbentuk. Bayi yang diimunisasi untuk membentuk kekebalan tubuh dari beberapa penyakit. Nah, karena konsumen Indonesia sudah lama dicekokin part ataupun variasi Cina kelamaan sudah kebal sendiri. Ujung-ujungnya konsumen sudah bisa menyeleksi komponen yang memang aman untuk dipakai.
Sebenarnya sih sebelum ada kesepakatan ekonomi AFTA-Cina produk Cina sudah bikin kaget biker. Ingat, kan masuknya motor Cina atau Mona ke Indonesia? Lebih dari 120 merek menyerbu pasar Indonesia kala itu.
Kehadiran Mona ini membuat keguncangan di dunia otomotif nasional. Bayangin saja Mona bisa dilego sampai Rp 7 jutaan. Padahal, motor Jepang (mopang) ketika itu, dilego di kisaran lebih dari Rp 11,5 juta. Astra Honda Motor (AHM) pun kepancing dengan mengeluarkan Honda Legenda di harga Rp 9 jutaan.
Turun ke variasi produk Negeri Tirai Bambu menggedor dengan Posh. Enam tahun lalu beberapa importir memasukan Posh dari Thailand yang memang jadi kiblat produksinya.
Tapi, Posh made in Cina membanjiri pasar variasi Indonesia. “Banyak Posh yang kualitasnya kacau. Baru dikencangkan dikit bagian pinggirnya retak. Tapi, ada Posh buatan Cina punya kualitas bagus,” bilang Johny Lipurnomo dari Custom World, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Ambil contoh lagi bicara kualitas. Sekitar 3 tahun lalu pengguna balap motor Suzuki RG-Sports dibikin bingung sama gear box yang mudah rontok dan patah. Padahal, seset gigi rasio RG-Sports dari Malaysia paling murah Rp 7 juta.
Pihak pabrikan Suzuki di Indonesia ambil langkah untuk memesannya langsung dari Taiwan, Cina lautan. Order persatuan hampir mendekati angka Rp 5 juta. Berarti selisih lebih dari Rp 2 juta dibanding dari Malaysia. Tapi, girboks buatan Cina lautan tahan banting.
Tingkat industri besar sebelum AFTA-Cina tahun ini untuk komponen roda dua terbilang kalah start. Bukan cuma spare- parts dan variasi aja yang sudah jauh lebih dulu masuk, tapi sejak dua tahun lalu industri Cina sudah masuk lebih dulu.
“Rata-rata mereka masuk jadi vendornya pabrikan motor di sini. Wilayah industri di kawasan Sukabumi-Bogor,” beber salah satu pemain besar komponen motor dari Jakarta.
Kalau begitu, era AFTA-Cina terbilang eranya peresmian bisnis Indonesia-Cina. Memang, ada yang akan lebih seru komponen Cina akan menyerbu jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Hitungannya angka tarif bea masuk komponen Cina bisa di bawah 5 persen dibanding era sebelumnya.
“Konsumen sudah lebih duluan belajar bagaimana memilih spare-parts yang layak dipakai. Termasuk juga konsumen siap akan risiko kalau pakai spare-parts yang enggak jelas garansinya,” bilang Tommy Huang, Direktur Utama PT Trimentari Niaga, produsen CDI dan segala macam komponen racing berlalel BRT, Cibinong, Jawa Barat.
Jadi, AFTA-Cina untuk komponen Cina era yang siap dihadapi biker karena kemampuan 'imun' sudah terbentuk di jauh hari sebelumnya.
Penulis/Foto : Niko, Hend/Boyo, Herry Axl
|